Sepertipembakaran tempat ibadah dan aksi kekerasan lainnya yang bermotif agama. Warga di desa itu mengaku mengetahui semua kejadian itu. Mereka lalu membahas konflik yang terjadi di luar itu dan berupaya untuk mencegahnya supaya tidak terjadi di desa tersebut. "Kami tahu. Tapi itu terjadi di sana, jangan sampai terjadi di sini," kata Ahmad
Keenamrumah ibadah tersebut yaitu masjid, gereja umat Katolik dan Kristen Protestan, kelenteng, vihara, dan pura. Rumah ibadah itu berdiri di atas tanah perumahan Royal Residence, Wiyung, Surabaya Barat. Ketua Forum Komunikasi Rumah Ibadah (FKRI) Royal Residence Indra Prasetya menceritakan, perumahan itu mulai ditempati pada 2009 lalu.
Nahberikut ini daftarnya, yaitu : 1. Masjid. Bagi umat Islam terdapat masjid kampus Nurul Huda Universitas Sebelas Maret sebagai pusat kegiatan keagamaan umat islam. 2. Gereja. Bagi umat Kristen baik Katolik maupun Protestan, kampus UNS menyediakan gereja kampus UNS sebagai pusat kegiatan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan yang maha ESA. 3.
Duakecambah diletakkan pada dua tempat yang berbeda, yang satu ditempat gelap dan yang lain di tempat terang. Kecambah di tempat gelap akan tumbuh lebih cepat panjang daripada kecambah di tempat terang. Biji akan lebih cepat berkecambah ketika ditempatkan dalam lingkungan yang gelap. Hal ini membuktikan bahwa cahaya berpengaruh terhadap
Tetapitahukah kalian bahwa di luar itu semua ternyata kita, di Indonesia masih bisa menikmati indahnya kerukunan yang tercermin dari tempat ibadah. Solo ada dua tempat ibadah yang dibangun secara berdampingan yaitu Gereja Kristen Jawa Joyodiningratan dan juga Masjid Al-Hikmah. Uniknya, dua bangunan ini letaknya berdempetan alias saling
cara memperbaiki water heater listrik tidak panas. Masjid Istiqlal. Sumber Jakarta Letaknya yang berdekatan, Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral merupakan simbol toleransi yang indah. Tak hanya Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral saja yang berdampingan, ada beberapa masjid dan gereja di kota-kota lain di Indonesia yang letaknya juga berdampingan. Toleransi, Mahalini Ikut Puasa Sehari Penuh untuk Temani Rizky Febian FOTO Desa di Ukraina Menjalani Paskah Tanpa Gereja Usai Salat Ied di Masjid Istiqlal, Wapres Ma'ruf Amin Mudik ke Banten Untuk Berlebaran Bahkan kini Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral semakin dekat karena sudah diresmikannya terowongan silaturahmi Istiqlal dan Katedral. Selain desain interior dan eksteriro, fakta menarik lainnya dari terowongan tersebut yakni bisa mempermudah akses parkir jamaah dua rumah ibadah. Indonesia merupakan negara majemuk yang terdiri dari beragam ras, suku, budaya, adat, dan agama. Lokasi tempat ibadah yang berdampingan menjadi salah satu keindahan bagi antar umat beragama untuk saling tingkatkan rasa toleransi. Malang, Solo, Surabaya merupakan beberapa kota di Indonesia yang terdapat masjid dan gereja yang berdampingan. Beragam kisah menarik soal masjid dan gereja berdampingan ini Berikut merangkum dari berbagai sumber tentang masjid dan gereja yang berdampingan selain Masjid Istiqlal – Gereja Katedral, Selasa 26/4/2022.Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta rampung dibangun. Yuk kita lihat isi dan arti dibalik ornamen yang ada di Masjid Al Hikmah dan GKJ Joyodiningratan Solo, Jawa TengahMasjid dan Gereja Berdampingan. Sumber dan gereja pertama yang berdekatan adalah Masjid Al Hikmah dan GKJ Joyodiningratan di Solo, Jawa Tengah. Masjid Al-Hikmah dan Gereja Kristen Jawa GKJ Joyodiningratan yang terletak bersebelahan di Jalan Gatot Subroto Kratonan Serengan, Solo, Provinsi Jawa Tengah bersama-sama menjaga tolerasi dalam kebersamaan melaksanakan pelaksanaan ibadah. Masjid dan gereja tersebut selalu bekerjasama dalam setiap pelaksanaan ibadah terutama yang menyangkut banyak jamaah. Bahkan antar jamaah saling menghormanti dan menghargai satu sama Masjid Agung Jami dan GPIB Immanuel Malang, Jawa TimurMasjid dan gereja bersanding di Malang / Zainul ArifinMasjid Agung Jami dan GPIB Malang merupakan masjid dan gereja selanjutnya yang tunjukkan indahnya toleransi. Toleransi antarumat beragama di Kota Malang ini tergambar jelas dengan keberadaan Masjid Agung Jami dan Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat GPIB di sebelah barat Alun-alun Merdeka Kota Malang. Kedua tempat ibadah yang hanya dipisahkan oleh sebuah gedung umum. Saat perayaan hari besar, pengurus dua tempat ibadah saling mengabarkan dan meminta izin agat terciptanya suasana yang nyaman dan bikin hati adem. Bahkan ketika perayaan Idul Fitri, jamaah Masjid Agung Jami yang tak kebagian tempat di dalam masjid, memilih shalat di pelataran gereja. 3. 6 Rumah Ibadah Saling Berdampingan di Surabaya, Jawa TimurRumah ibadah berdampingan di Surabaya. Sumber enam rumah ibadah saling berdampingan di Surabaya tunjukkan indahnya toleransi. Dalam satu lokasi ada Masjid Muhajirin, Gereja Katolik Kapel Santo Yustinus dan Kristen Protestan GKI Royal Residence, Kelenteng Ba De Miao, Vihara Budhayana Royal Residence, dan Pura Sakti Raden Wijaya. Enam rumah ibadah yang saling berdekatan ini terletak di Perumahan Royal Residence, Wiyung, Surabaya. Uniknya meski berbeda, keenam rumah ibadah yang berdiri dalam satu lokasi berdampingan itu tidak menggunakan pagar atau pembatas lainnya. Sehingga, lokasi rumah ibadah itu terlihat menyatu dengan Masjid Bakhti dan GKPI, Pematang Siantar, Sumatera UtaraMasjid Bakhti dan GKPI, Sumatera Utara merupakan masjid dan gereja selanjutnya yang berdampingan. Masjid Bakhti dan GKPI tersebut terletak Keluaran Pondok Sayur, Kecamatan Siantar Martoba. Rumah ibadahnya berdampingan, warganya yang pun rukun dan saling menghargai satu sama lainnya. Sama seperti masjid dan gereja lainnya yang berdampingan, Masjid Bakhti dan GKPI juga saling memahami ketika hari besar agama Masjid Al Muqarrabien dan Gereja Masehi Injil Sangihe Talaud Mahanaim, Tanjung PriokGereja Masehi Injil Sangihe Talaud Mahanaim dan Masjid Al Muqarrabien. Sumber Al Muqarrabien dan Gereja Masehi Injil Sangihe Talaud Mahanaim yang berlokasi di jalan Enggano, Jakarta Utara adalah masjid dan gereja selanjutnya yang sudah berdampingan selama 55 tahun. Menurut Ketua Pengurus Masjid, Haji Tawakal, dua bangunan yang didirikan ini hanya selisih satu tahun tersebut di bangun oleh pelaut-pelaut yang singgah di Tanjung Priok. Masjid dibangun pelaut muslim pada tahun 1958, sementara gereja dibuat oleh eorang pelaut beragama Kristen yang dibangun tahun 1957. 55 tahun berdekatan, jamaah dua tempat ibadah ini selalu harmonis dan saling menjaga. Salah satu bentuk tolerasi dua tempat ibadah ini, menurut pengurus masjid yakni pengeras suara di Al Muqarrabien sengaja dipasang menghadap ke arah barat. Sedangkan bangunan gereja berada di sebelah timur.* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.
Jakarta - Memiliki waktu libur hanya sehari dapat dimanfaatkan dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang unik. Misalnya, wisata religi di kota Jakarta, misalnya, terdapat beberapa tempat ibadah bersejarah yang jaraknya berdekatan. Yaitu Gereja Imanuel, Gereja Katedral, Masjid Istiqlal, Klenteng Sin Tek Bio, dan Kuil yang dikeluarkan pun cukup murah, Anda hanya perlu memberikan sumbangan secara sukarela di setiap rumah ibadah Gereja ImmanuelUntuk memulai perjalanan, Gereja Immanuel dapat menjadi pemberhentian pertama, letaknya sangat dekat dengan Stasiun Gambir. Jika Anda berkunjung pada hari Minggu pukul Anda dapat menemukan keunikan dengan mendengar penggunaan Bahasa Belanda dalam ibadah yang dibangun tahun 1835 dan diresmikan pada 1839 ini termasuk salah satu gereja tertua di Gereja KatedralGereja Katedral merupakan rumah ibadah bagi umat Katolik yang berada di Jalan Katedral. Anda dapat berjalan kaki beberapa ratus meter dari Gereja Imanuel atau menggunakan moda transportasi. Akses masuknya cukup mudah karena memang banyak pelancong yang sungkan jika Anda menggunakan atribut keagamaan seperti jilbab. Bangunan yang megah dan arsitektur dengan gaya neo-gotik Eropa sayang untuk Masjid IstqilalIklan Masjid Istiqlal terletak di seberang Gereja Katedral. Masjid ini dibangun pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno. Letak masjid yang berdekatan dengan Gereja Imanuel dan Gereja Katedral ini bukan tanpa alasan, hal ini merupakan cerminan semangat bhineka tunggal ika para pendiri terbesar ketiga di dunia ini bisa menampung sekitar 200 ribu orang. Selain memiliki simbol-simbol agama, masjid ini juga memilik makna-makna sejarah Indonesia pada Klenteng Sin Tek BioKlenteng Sin Tek Bio atau Klenteng Kwan Im Bio beraliran Konghucu-Buddha, berada di tengah Pasar Baru. Untuk menemukannya jangan sungkan bertanya kepada warga sekitar. Keunikan yang dapat Anda temui di dalamnya adalah terdapat makam seorang baba’ yaitu etnis Cina yang menikah dengan etnis banyak sekali simbol dan patung Sun Go kong dan Dewi Kwan Im, lilin-lilin berukuran besar yang terus menyala menghangatkan suasana dalam Sikh TempleSikh Temple atau Kuil Sikh merupakan tempat ibadah beraliran Sikh’ yang berkembang pesat di India Utara. Uniknya, setiap hari kuil ini menyediakan makanan gratis untuk umum. Anda bisa mencicipi makanan khas India dan teh tarik secara cuma-cuma jika datang di pagi untuk memasuki kuil ini adalah wajib menggunakan penutup kepala, pihak kuil menyediakan penutup kepala bagi yang tidak QURANI MAGANG
Katolik - Gereja - Al Kitab Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki beragam aliran kepercayaan dan keagamaan. Di Indonesia, terdapat 6 agama yang diakui, antara lain ada agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Setiap agama di Indonesia memiliki hari raya keagamaannya masing-masing. Pembahasan Beberapa nama kitab suci, nama tempat ibadah, nama hari besar keagamaan/nama hari raya, serta nama upacara keagamaan agama islam, kristen, katolik, hindu, budha, dan konghuchu, antara lain AGAMA ISLAM Nama kitab suci = Al-Qur’an Nama tempat ibadah = Masjid Nama hari raya keagamaan = Idhul Fitri, Idhul Adha, Tahun Baru Hijriyah, Isra Mi'Raj. Nama upacara keagamaan = Jum’atan, Puasa Ramadhan, Maulid Nabi Muhammad ﷺ AGAMA KRISTEN Nama kitab suci = Al-Kitab Nama tempat ibadah = Gereja, Kapel Nama hari raya keagamaan = Natal, Paskah, Pantekosta, Hari Jumat Agung, Kenaikan Isa Almasih, Wafat Isa Almasih. Nama upacara keagamaan = Upacara Paskah, Natal, Angkat Sidi AGAMA KATOLIK Nama kitab suci = Al-Kitab Nama tempat ibadah = Katedral, Gereja. Nama hari raya keagamaan = Natal, Paskah, Pantekosta Nama upacara keagamaan = Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci AGAMA HINDU Nama kitab suci = Weda Nama tempat ibadah = Pura Nama hari raya keagamaan = Nyepi, Saraswati, Galungan, Kuningan, Pagerwesi, Saraswati Nama upacara keagamaan = Upacara Ngaben, Potong Gigi, Tingkeban, Sedekah Bumi AGAMA BUDHA Nama kitab suci = Tripitaka Nama tempat ibadah = Vihara Nama hari raya keagamaan = Waisak, Asadha, Kathina, Maghapuja, Ulambana Nama upacara keagamaan = Waisak AGAMA KONGHUCHU Nama kitab suci = Shishu Wujing Nama tempat ibadah = Klenteng/Litang Nama hari raya keagamaan = Tahun Baru Imlek, Cap Go Meh, Cheng Beng, Peh Cun. Nama upacara keagamaan = Cap Go meh, Cheng Beng, Membagikan Angpau Pelajari Lebih Lanjut Kegiatan Keagamaan di Gereja Kegiatan Keagamaan di Vihara Kegiatan Keagamaan di Kelenteng Detail Jawaban Kelas VII Mapel Ppkn Bab Bab 4 Keberagaman Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika Kode Kata Kunci Hari Raya, Kegiatan Keagamaan, 6 Agama Besar di Indonesia. siapa di sini yang mau jadi pacar gue asal yang agak ganteng jangan lupa nomor nya yah siapa di sini yang mau jadi pacar gue asal yang agak ganteng jangan lupa nomor nya yah siapa di sini yang mau jadi pacar gue asal yang agak ganteng jangan lupa nomor nya yah siapa di sini yang mau jadi pacar gue asal yang agak ganteng jangan lupa nomor nya yah
SURABAYA, - Salah satu perumahan elite di Wiyung, Surabaya, Jawa Timur, memiliki enam rumah ibadah yang dibangun berdampingan. Keenam rumah ibadah tersebut yaitu masjid, gereja umat Katolik dan Kristen Protestan, kelenteng, vihara, dan pura. Rumah ibadah itu berdiri di atas tanah perumahan Royal Residence, Wiyung, Surabaya Forum Komunikasi Rumah Ibadah FKRI Royal Residence Indra Prasetya menceritakan, perumahan itu mulai ditempati pada 2009 lalu. Indra sendiri mulai membeli rumah dan tinggal di perumahan tersebut sejak tahun 2010. Selama ini, warga di sana selalu melaksanakan ibadah di luar perumahan. Sebab, desain kompleks perumahan memang tidak disediakan tempat ibadah. Hingga pada akhir 2014, ia mengajukan kepada pihak developer agar di kompleks perumahan tersebut disediakan fasilitas umum berupa rumah ibadah. Alasannya, warga Muslim yang melaksanakan ibadah lima waktu setiap harinya, harus beribadah di luar perumahan yang jaraknya lumayan jauh dari perumahan. "Jadi ini berawal dari warga Muslim yang menginginkan masjid di perumahan. Karena kebutuhan ibadah lima waktu. Selama ini, warga Muslim selalu beribdaha di luar," kata Indra kepada belum lama ini. Baca juga Cerita di Balik Foto Viral Wanita Berhijab dari Semarang Bersalaman dengan Paus Fransiskus Pada 2016 lalu, usulan untuk membangun rumah ibadah itu disetujui oleh pihak developer. Tidak hanya masjid, pihak developer juga menyediakan lahan seluas 400 meter persegi untuk dibangun rumah ibadah bagi pemeluk agama selain Islam. "Pihak developer bilang gini, 'Ya sudah, kalau begitu sekalian semua. Lahannya ada di bawah sutet, apa mau di situ?' Kita jawab mau," cerita Indra. Karena agama yang diakui Indonesia hanya ada enam, perwakilan tokoh dari enam agama, yakni Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha, Konghucu, bertemu dan sepakat membangun rumah ibadah berjajar. Menurut Indra, pihak developer hanya menyediakan lahan. Sementara biaya pembangunannya dikumpulkan secara swadaya oleh warga dengan mencari sumbangan. "Yang bertanggung jawab membangun adalah warga. Tentunya, bukan murni warga tetapi banyak penyumbang. Jadi, masing-masing pengurus cari dana dan ada yang dapat dari pemerintah kota, provinsi, ada yang dapat dari pemerintah pusat dapat. Hindu dari pusat dapat, Katolik dari provinisi dapat. Jadi, semua sepakat untuk dibangun bersama," ucap dia. SALMAN Enam rumah ibadah seperti Masjid, Gereja Katolik, Gereja Kristen Protestan, Pura, Vihara, dan Kelenteng, berjajar jadi satu di perumahan Royal Residence, Wiyung, para tokoh antar agama itu bertemu, kemudian disepakati untuk membentuk Forum Komunikasi Rumah Ibadah FKRI. Forum lintas agama itu dibentuk untuk menghindari adanya gesekan dan tetap menjalin hubungan kerukuran antar umat beragama. Indra Prasetya dipilih para tokoh lintas agama untuk menjadi ketua mendapat dana untuk membangun rumah ibadah, pembangunan enam rumah ibadah itu dimulai pada 2017. Rumah ibadah yang sudah beroperasi baru ada tiga, yakni masjid, gereja Kristen Protestan dan gereja Katolik. Sementara itu, rumah ibadah agama Hindu, Budha, dan Konghucu, seperti pura, vihara, dan kelenteng masih dalam proses pembangunan. Baca juga Hanya Dewi yang Diberi Kesempatan Bersalaman dan Berkenalan dengan Paus Fransiskus Mengatur waktu Untuk mengantisipasi perbedaan pendapat antar pemeluk agama, menurut Indra, kegiatan-kegiatan besar tidak boleh dilakukan dengan jadwal yang sama. Tujuannya agar pemeluk agama lain tidak terganggu. Sebab, jarak antar rumah ibadah yang berjajar itu, masing-masing hanya berjarak tiga meter. "Misalkan Katolik dan Protestan sama-sama ada Natalan. Kita pemeluk agama lain harus menyesuaikan. Nanti disampaikan ke umat lain, agar tidak melakukan kegiatan di hari yang sama. Itu sudah disepakati," ujar dia. Nantinya, setelah enam rumah ibadah itu beroperasi semua, warga di perumahan setempat berharap pengelola masing-masing rumah ibadah haruslah dari tokoh agama yang tinggal di perumahan tersebut. "Kita tidak ingin sampai ada gesekan. Yang diharapkan pengurus FKRI, pengurus masing-masing rumah ibadah warga Royal Residence. Karena kalau ada benturan bisa diminimalisir. Karena kita bertemu tiap hari. Tapi mudah-mudahan rukun," kata dia. Menurut Indra, untuk menjaga kerukunan antar pemeluk agama, ia bersama pengurus dan warga selalu menjalin komunikasi agar bisa saling menghargai dan menjaga toleransi. Ia menyampaikan, ada beberapa hal yang sudah menjadi kesepakatan bersama agar tidak menimbulkan gesekan antar umat beragama. Untuk tempat parkir, misalnya, warga yang hendak beribadah di rumah ibadah tersebut diberi kebebasan untuk memarkir kendaraannya di mana saja. "Hari Minggu, misalnya, agama Hindu, Kristen, Katolik, Budha, dan Konghucu ibadahnya kan semua bersamaan, sehingga semua sudah sepakat bahwa tidak masalah memarkir kendaraan di depan masjid. Kegiatan di masjid diupayakan tidak minggu pagi karena sudah banyak teman-teman yang menggunakan lokasi parkir," ujarnya. Tidak sampai di situ, masjid di sana juga tidak menggunakan pengeras suara untuk adzan. Di gereja juga disepakati untuk tidak memakai lonceng agar tidak mengganggu. "Jadi speaker di masjid cuma ada di dalam gedung, termasuk lonceng di gereja ada di dalam gedung. Semua sudah sepakat supaya bisa rukun. Karena Tuhan menciptakan manusia untuk saling rukun dan berinteraksi," ujarnya. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Gereja dan masjid di DiyarbakiFoto DWSuatu saat seorang pejabat pemerintah Tiongkok Republik Rakyat Cina mendengar kabar bahwa ada pengurus majelis sebuah agama di negaranya yang membangun sebuah rumah ibadah yang sangat megah, indah, dan elok. Mungkin lantaran tidak berkenan, sang pejabat tadi menemui pengurus majelis yang kaya-kaya itu dan mengajak mereka keliling jalan-jalan melihat pemukiman penduduk di sekitar rumah ibadah tersebut. Oleh pejabat tadi, mereka diajak blusukan masuk ke dalam kompleks perkampungan melewati gang-gang sempit, lorong-lorong kumuh, dan rumah-rumah penduduk yang kusam dan saling berhimpitan. Tak pelak, bau busuk sampah dan got mampet pun menyengat hidung. Sang pejabat kemudian mengajak pengurus majelis masuk ke sebuah rumah reot nan kumuh. Mereka pun kaget terperangah melihat keadaan rumah itu berlantai tanah, kotor, bau pengap, penerangan ala kadarnya, dan barang-barang berserakan di segala sudut ruangan. Sebuah meja makan kecil dipenuhi piring kotor. Lauk dan sisa-sisa makanan berceceran di samping sebuah keranjang berisi seekor kucing tua yang sedang tiduran. Seorang ibu dan anaknya juga terlihat tidur di atas tikar kumal dengan “ditemani” lalat-lalat yang beterbangan di sekitarnya. Sang pejabat menoleh ke arah pengurus majelis yang masih terperangah dan ternganga seolah tak percaya dengan apa yang mereka lihat di depan mata. Sejurus kemudian sang pejabat pun bertanya kepada mereka “Apakah menurut kalian,Tuhan lebih suka melihat rumah-Nya dibangun dengan super mewah atau rumah hamba-hamba-Nya dibangun dengan agak layak, baik, dan sehat?" Pengurus majelis pun tak bersuara. Diam membisu. Penulis Sumanto al Qurtuby Foto S. al Qurtuby Berjubelnya Tempat-tempat Ibadah Penggalan kisah ini saya dapatkan dari sahabat karibku, Harjanto Halim, seorang pengusaha Tionghoa yang dermawan, filantropis, dan gemar membangun persaudaraan universal dengan berbagai kelompok etnis dan agama. Peristiwa pendirian tempat-tempat ibadah megah di tengah kompleks pemukiman kumuh dan kemelaratan warga bukan hanya terjadi di Cina saja tetapi juga di negara-negara lain di dunia ini, termasuk Indonesia. Di Indonesia kita sering menyaksikan berbagai bangunan tempat ibadah masjid, gereja, kuil, dlsb yang sangat megah dan indah. Berbagai kelompok agama seolah berlomba-lomba membangun tempat ibadah yang megah. Berbagai ormas dan kelompok Islam berlomba-lomba membangun masjid mewah. Berbagai denominasi Kristen berlomba-lomba membangun gereja yang megah. Begitupun umat agama lain. Oleh umat beragama, khususnya kelompok elitenya, berdirinya tempat-tempat ibadah itu dijadikan sebagai ukuran, tanda, atau simbol kesuksesan beragama dan peningkatan iman kepada Tuhan. Para “juru bicara” dan “wakil” Tuhan di dunia ulama, klerik, pastor, pendeta, pandita, atau apapun namanya giat mendakwahkan atau mewartakan dan bahkan memobilisir umat mereka masing-masing untuk beribadah, bersedekah, berderma, dan beramal saleh membangun tempat ibadah yang mereka sebut sebagai “rumah Tuhan”. Pembangunan tempat ibadah tidak cukup satu atau dua tetapi kalau bisa sebanyak mungkin. Saya–mungkin juga Anda–sering menyaksikan sebuah desa atau kompleks perumahan yang memiliki banyak masjid dan musala langgar. Padahal masjid atau musala tersebut sering atau bahkan selalu kosong. Hanya beberapa gelintir saja yang salat. Masjid ramai kalau Jumat saja untuk salat Jumat. Di kompleks tempat tinggalku, di sebuah daerah di Semarang, juga terdapat setidaknya empat masjid besar yang letaknya berdekatan belum lagi ditambah musala. Keempat masjid tersebut dikenal dengan sebutan masjid Muhammadiyah, masjid NU, masjid LDII, dan masjid nasionalis. Di kampung kelahiranku yang kecil-mungil di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, juga terdapat satu masjid besar dan empat musala. Bukan hanya umat Islam saja. Umat agama lain juga sama. Umat Kristen misalnya juga berlomba-lomba membangun gereja. Masing-masing denominasi dan kongregasi bersemangat mendirikan gereja, bila perlu yang megah, untuk kelompok Kristen mereka masing-masing. Mereka tidak mau kalah dengan kelompok Kristen dari gereja-gereja lain. Pembangunan “Rumah Tuhan” itu Tidak Penting? Pembangunan atau pendirian rumah ibadah oleh pemeluk agama sebagai tempat melakukan aktivitas ritual-keagamaan tentu saja hal yang sangat wajar. Dari masyarakat suku yang tinggal di daerah pelosok terpencil hingga masyarakat modern di kota-kota metropolitan memiliki tempat-tempat ibadah, bagi yang beragama tentunya. Manusia bukan hanya “makhluk ekonomi” economic man atau “makhluk politik” political man tetapi juga “makhluk spiritual” spiritual man. Pembangunan tempat-tempat ibadah itu dianggap sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan religi-spiritual umat manusia itu. Tetapi, jika umat beragama terus-menerus membangun tempat ibadah secara berlebihan tentu saja tidak wajar dan tidak bisa dibenarkan. Apalagi membangun tempat-tempat ibadah yang megah atau bahkan supermegah yang indah di tengah kemiskinan warga dan sesaknya ekonomi umat tentu saja sangat dan lebih tidak wajar dan tidak dibenarkan lagi, dan oleh karena itu pandangan dan pemikiran seperti ini perlu dikaji ulang, dipikir lagi, dan direnungkan kembali. Daripada untuk mendirikan “rumah Tuhan” yang megah, uang atau harta, benda tersebut akan lebih bermanfaat dan berdaya guna jika dipakai untuk membangun sarana-prasarana yang bisa membantu mewujudkan atau meningkatkan kesejahteraan dan kemaslahatan umat manusia untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, tempat tinggal; kesehatan; pendidikan; air bersih; dlsb. Lagi pula, apakah benar pembangunan tempat-tempat ibadah yang mentereng itu “dihadiahkan” kepada Tuhan? Dengan kata lain, betulkah tempat-tempat ibadah megah itu sebagai “rumah” Tuhan? Jangan-jangan pembangunan tempat-tempat ibadah yang megah itu bukan untuk “rumah” atau “kediaman” Tuhan, melainkan untuk rumah/kediaman para “wakil”-Nya atau “penyambung lidah”-Nya? Mereka hanya memakai Tuhan untuk dalih, stempel, dan atas nama saja. Tuhan yang “Maha Kaya” tentu saja tak perlu dibuatkan rumah megah oleh hamba-hamba-Nya yang jelata yang setiap saat berdoa dan meminta belas kasihan kepada-Nya. Selamat berefleksi. Penulis Sumanto Al Qurtuby adalah Direktur Nusantara Institute; dosen antropologi budaya di King Fahd University of Petroleum & Minerals, Arab Saudi; Visiting Senior Scholar di National University of Singapore, dan kontributor di Middle East Institute, Washington, Ia memperoleh gelar doktor PhD dari Boston University. Selama menekuni karir akademis, ia telah menerima fellowship dari berbagai institusi riset dan pendidikan seperti National Science Foundation; Earhart Foundation; the Institute on Culture, Religion and World Affairs; the Institute for the Study of Muslim Societies and Civilization; Oxford Center for Islamic Studies, Kyoto University’s Center for Southeast Asian Studies, University of Notre Dame’s Kroc Institute for International Peace Studies; Mennonite Central Committee; National University of Singapore’s Middle East Institute, dlsb. Sumanto telah menulis lebih dari 25 buku, puluhan artikel ilmiah, dan ratusan esai popular, baik dalam Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia yang terbit di berbagai media di dalam dan luar negeri. Di antara jurnal ilmiah yang menerbitkan artikel-artikelnya, antara lain, Asian Journal of Social Science, International Journal of Asian Studies, Asian Perspective, Islam and Christian-Muslim Relations, Southeast Asian Studies, dlsb. Di antara buku-bukunya, antara lain, Religious Violence and Conciliation in Indonesia London Routledge, 2016 dan Saudi Arabia and Indonesian Networks Migration, Education and Islam London & New York Tauris & Bloomsbury. *Setiap tulisan yang dimuat dalam DWNesia menjadi tanggung jawab penulis. *Tulis komentar Anda di kolom di bawah ini.
letak dua tempat ibadah yang berdekatan membuktikan bahwa